UU ITE di Medsos, Antara Benteng dan Senjata

Redaksi, sentranews.com
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) telah menunjukkan eksistensinya ditengah perkembangan ITE yang sulit membendungnya.
Penerapan UU ITE sejatinya untuk membentengi masyarakat dan negara indonesia, namun tidak jarang  seolah menjadi senjata bagi orang yang berniat buruk kepada orang lain.
Korban terjerat pun cukup fantastis dari nitizen media sosial. Ada dugaan makar, ada kasus hoax, pencemaran nama baik, ada pornografi, dan ada juga ujaran kebencian dan SARA. Berdasarkan data Southeast Asia Freedom Network (Safenet) sudah 118 orang nitizen media sosial terjerat ITE sejak 2008 sampai akhir tahun 2016.
Sebagai fungsi benteng, menurut pakar digital marketing Indonesia dan media sosial Anthony Leong, UU ITE yang telah direvisi melarang nitizen membuat dan menyebarkan informasi bersifat tuduhan, fitnah, maupun SARA yang mengundang kebencian. "Penyebaran kebencian di media sosial secara terus menerus menimbulkan disintegrasi bangsa", tukas Leong. 
Dari sekian banyak kasus, berikut beberapa contoh kasus yang dirangkum sentranews.com.
Penodaan Agama.
Dugaan penistaan agama oleh Dosen Ilmu Komunikasi Fisip UI, Ade Armande pada 20 Mei 2015 di akun facebook dan twiternya.
"Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatnya dibaca dengan gaya minang, Ambon, Cina, Hiphop..." sebut Ade.
Ade dilaporkan oleh teman twiter Johan Khan 23/5/2015 dan ditetapkan  tersangka 25/1/2017 dengan dugaan penodaan agama sesuai pasal 156a KUHP dan atau pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.
Akhirnya kasus ini diterbitkan surat perintah pemberhentian penyidikan (SP3) Polda Metro Jaya karena tidak memenuhi unsur Pidana pada 20/2/ 2017 lalu.
Penghasutan SARA.
Buniyani tersangka kasus pencemaran nama baik dan penghasutan SARA. Dimana penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA.
Buniyani terjerat karena membuat captionnya pada video Ahok di akun facebook nya 6/10/201. "PENISTAAN TERHADAP AGAMA?
Bapak-ibu (pemilih muslim)...dibohongi surat Almaidah 51" ...(dan)"masuk neraka juga bapak ibu dibodohi".
Kelihatannya akan terjadi sesuatu dengan video ini." tulis Buni.
Buniyani pun dilaporkan Komunitas Advokad Muda Ahok-Jarot 7/10/2016. Ditetapkan menjadi tersangka 23/11/2017 dengan jeratan Pasal 28 ayat 2 dan juncto pasal 45 ayat 2 UU ITE.
Kasus tersebut telah dikembalikan Kejaksaan ke Polda Metrojaya.
Pornografi.
Penyebaran photo bugil Caw kelas III SLTA oleh mantan pacar Ipe alias Toto honorer Dinas PU NTB di Mataram di akun facebooknya pada 3/2/2010 lalu. Toto dilaporkan Caw dengan jeratan UU ITE juncto Pasal 282 KUHP.
Kasus ini terakhir berada Polres Mataram.
Hoax.
Penyebaran isu hoax dan mengandung SARA. Abu Wuais mengajak dan mengatakan telah terjadi penarikan uang besar-besaran dari bank, padahal tidak benar terjadi. "Aksi "Rush Money" mulai berjalan. Ayo ambil uang kita dari bank milik komunis," tulis Guru salah satu SMP Jakarta Utara, Abu Wuais 22/11/2016 di akun facebooknya.
Akibat postingannya, Abu dikenai Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
Kasus ini telah dilimpahkan Bareskrim Polri ke Kejaksaan akhir Januari 2017 lalu.
Pencemaran Nama baik.
Yusniar  berdomisilih di Makasar, pada 14/3/ 2016 membuat postingan di facebooknya setelah rumah orang tuanya digusur paksa oleh salah seorang pengusaha, yang juga anggota dewan makasar bersama ratusan orang.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga masalahnya anggota DPR Tolo. Pengacara Tolo. Mau nabanto orang yang bersalah, nyata-nyatanya tanahnya ortuku pergiko ganggui poeng", tulis Yusniar tanpa menyebutkan nama seseorang.
Anggota DPRD Jonoponto, Sudirman Sijaya yang merasa sebagai pelaku melaporkan Yusniar, dengan sangkaan pasal 27 ayat 3 UU ITE.
Penanganan kasus telah berada di Pengadilan Negeri Makasar.* (Red, sentranews. com)

No comments

Powered by Blogger.