Tuesday, April 25, 2017

Membaca Secuil Data PLN Batam Atas Naiknya TLB

Ditulis oleh: Redaksi sentranews.com     Tuesday, April 25, 2017    

Redaksi sentranews.com.
Alasan kenaikan Tarif Listrik Batam (TLB) masih mentah dihadapan publik sehingga masyarakat tidak menerima Peraturan Gubernur Kepri 21 tahun 2017.
Sekretaris Korporasi PLN Batam Samsul Bahri di info.plnbatam.com (3/4/17) mengungkapkan penyebab kenaikan TLB adalah BPP naik akibat kurs, harga energi primer dan tingkat inflasi.
Biaya Pokok Produksi (BPP) untuk  pembelian bahan baku primer hingga distribusi ke pelanggan tahun 2014 sebesar Rp 1.218/kWh.
Sampai suara redaksi sentranews.com ini dituliskan PLN Batam tidak pernah mengungkap sumber/ lembaga penghitung dan dasar penentuan  angka BPP tersebut.
Ndilalahnya lagi, angka untuk BPP tahun 2015, 2016 dan 2017 tidak pernah mereka ungkap ke publik karena angkanya dipastikan turun berdasarkan berkurang penggunaan bahan bakar diesel (solar).
Samsul Bahri menyatakan penjualan listrik untuk rumah tangga cenderung meningkat dan penjualan ke industri cenderung menurun. Penjualan listrik rumah tangga 32% tahun 2015 menjadi 37 % tahun 2016. Untuk industri 32% tahun 2015 menjadi 25% tahun 2016.
PLN Batam tidak melansir selisih penjualan tersebut kemana dijual listrik 36 % tahun 2015  dan tahun 2016 38%. Kesan pelansiran data tidak adanya transparansi.
Direktur Niaga dan Pengembangan Usaha PLN Batam Khusnul Mobien (Batam pos.co.id 6/12/16) juga melansir jumlah pelanggan sampai akhir 2016 sebanyak 288.000. Kelompok sosial, R1, R2 sebanyak 200.000 pelanggan dan diatas R2 sejumlah 88.000 pelanggan.
Tragisnya, ungkap Khusnul, subsidi perbulan US $6 juta (Rp 70 miliar) untuk Biaya Produksi dari keuntungan.
Dari data yang dipaparkan PLN Batam ini tidak didukung, apakah jumlah pelanggan tersebut sudah termasuk penyaluran arus di luar Pulau Batam. Juga, jumlah ril berapa arus yang terjual untuk pergolongan pelanggan dan tidak menjelaskan perhitungan subsidi Rp 70 miliar.
Dari sisi inflasi, Batam memang terpuruk dari titik 5 menjadi 7. Menurut Bidang kelistrikan yang juga mantan anggota DPRD Kepri Wirya Putra, jika TLB naik didasarkan Inflasi, maka kenaikan hanya 7 %. "Tidak boleh diakumulasi inflasi 2014 - 2016 ditimpakan kepada masa sedang berjalan" tegas Wirya.
Wartawan sentranews.com di masa majalah Ombudsman dan Sidang Rakyat, jauh sebelum kenaikan tarif dalam Pergub TLB bermasalah ini, telah ditanyakan perihal data-data yang disampaikan PLN Batam tersebut. Namun PLN Batam tidak mau mengungkapkan.
Memotret gambaran data ini PLN Batam tidak memiliki keinginan transparan terkait  kepentingan publik dan apatis terhadap pertumbuhan ekonomi Batam.
Menghindari polemik dan menjaga kondusifitas Batam, sebaiknya PLN Batam terbuka atas data yang disampaikan ke masyarakat.
Momen kemauan Gubernur Kepri Nurdin Basirun merevisi Pergub 21 tahun 2017 tentang TLB adalah waktu yang tepat untuk PLN Batam dan masyarakat untuk saling mendukung secara realistis.
Sebagai informasi pengelolaan PLN Persero ke PLN Batam sebagai anak perusahaannya sejak 3 Januari 2000. Mulai saat inilah berlaku tarif listrik lokal Batam.*

Comments
0 Comments

0 comments :