Modus Bela Negara Pengganti Ospek Telan Korban

Batam, sentranews.com

Meninggalnya seorang mahasiswa Politeknik Batam, Moses Brian Reanaldy Dolok Saribu  saat mengikuti pendidikan awal akademik dengan pengemblengan fisik, akrab disebut Ospek menambah deretan permasalahan pendidikan nasional.

Dipemakaman Sei Tamiang Batam, setelah korban dimakamkan. Beberapa pengantar menyesalkan konsep pendidikan karena melakukan pengemblengan yang tidak berhubungan langsung dengan akademik. "Kok, masih ada Ospek ya?", ketus salah satu pengantar saat bincang-bincang dengan sentranews.com

Pengantar menilai kegiatan Ospek atau sejenis pengemblengan fisik tidak tepat digunakan dalam akademik selain TNI dan Polri, apalagi hanya untuk maintenance pesawat.

Dari perbincangan mereka, kesalahan fatal ada di Panitia karena tidak sensitif dengan kondisi yang digembleng. " Masa setelah lemas dan pingsan baru dibawa ke rumah sakit?", tanya salah satu Pengantar.

Mereka berharap jangan ada lagi terulang proses pendidikan awal mahasiswa baru yang menelan korban. Diharapkan juga pihak kampus mengganti model kegiatannya. "Takut juga anak kita pula nanti jadi korban", ungkapnya.

Di waktu dan tempat terpisah, seorang ibu berinisial LL mengungkapkan kepada sentranews.com kegiatan seperti itu sudah lama berlangsung, mulai adanya bidang Pesawat di Kampus Politeknik Batam.

Antara Proses Meninggalnya Mahasiswa dan "Perintah" AMTO

Seorang mahasiswa baru Politeknik Batam Moses Brian Reanaldy Dolok Saribu meninggal dunia setelah menjalani proses pendidikan awal -sering disebut Ospek- yang diadakan pihak kampus bekerjasama dengan TNI AL (Marinir) sejak 24/7.

Setelah pingsan dilarikan ke rumah sakit. Paska penanganan, sesaat kemudian nyawanya tidak terselamatkan lagi oleh pihak RSUD Embung Fatimah (27/7). Moses Brian Reanaldy Dolok Saribu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Informasinya korban merasa kurang sehat beberapa hari setelah mengikuti hari pertama proses pengemblengan. Kondisi itu terlihat saat kembali ke rumah dengan  lemas dan perubahan kontras pada fisik dan kulit.

Pembimbing mahasiswa baru ini dipercayakan Politeknik Batam kepada Satuan Batalyon Infanteri 10 Marinir/Satria Bhumi Yudha untuk jurusan Teknik Perawatan Pesawat Udara.

Proses awal mahasiswa baru, sering disebut ospek, tidak diakui General Manager Authorized Maintanance Training Organization (AMTO),  Sunarto. Korban dan mahasiswa lainnya digembleng dalam program Pendidikan  Bela Negara, Kedisiplinan dan Kepemimpinan Taruna Baru.

Diungkapkannya, kegiatan serupa dikhususkan kepada taruna baru tingkat I atau mahasiswa program studi Diploma III Teknik Perawatan Pesawat Udara. 

Sunarto berdalil pengemblengan atas nama profesi yang terakurasi dan disiplin karena bertanggungjawab atas status ready for flight pesawat udara.

Program ini diikuti oleh 48 siswa. Setelah mengikuti program ini, mahasiswa tersebut akan menerima lisensi dasar perawatan pesawat udara yang diterbitkan oleh Kementrian Perhubungan.
(Giro, sentranews.com)

Photo, Makam Moses

No comments

Powered by Blogger.