RI-Cina, Polemik Nama dan Laut ZEE di Natuna

Jakarta, sentranews.com.
Indonesia-Cina sudah lama berpolemik mengenai delimitasi batas maritim (maritime delimitation), bukan soal pulau. Soal batas-batas ini harus diselesaikan oleh Indonesia dan semua negara yang berbatasan dengan Laut China Selatan karena negara-negara ini bertetangga. 

Upaya itu dilakukan Pemerintah melalui penamaan laut agar mendapat kepastian dan berkedaulatan, meski akhirnya dibantah Pemerintah Indonesia sendiri.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memastikan belum ada perubahan penyebutan Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara karena peta tersebut belum pernah ditandatanganinya. "Ada satu proses pengambilan keputusan yang belum dilalui" kata Luhut.

Bantahan itu disampaikannya pada pertemuan wartawan di Gedung BPPT, Jakarta Pusat (13/9/2017) lalu. Meski demikian, dia mengakui wacana tersebut sudah dalam pembahasan dan telah pernah disampaikan salah seorang di Kementeriannya. "Itu enggak ada tanda tangan saya kan?," kata Luhut.

Juli lalu Deputi I Kemenko Bidang Kemaritiman  Deputi I, Arif Havas Oegroseno, meluncurkan peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru, yang menitikberatkan perbatasan laut Indonesia dengan negara lainnya dan penggantian sebutan Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara.

Ketika itu dari Beijing bereaksi. CNN dan BBC melansir (14,16/7), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menganggap penggantian penyebutan nama itu tak masuk akal, tidak berpengaruh, tidak berarti dan tidak sesuai dengan upaya standarisasi mengenai penamaan geografi internasional.

Cina berharap seluruh negara yang berada di sekitar Laut China Selatan untuk berkolaborasi mewujudkan tujuan bersama terutama terkait dengan situasi keamanan dan pertahanan di sekitar laut tersebut.

Latar Belakang Penamaan

Nama baru perairan di utara Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan -selama ini sekitar perairan tersebut dinamai Laut Cina Selatan-, Indonesia menamainya Laut Natuna Utara.

Deputi I Kementerian Koordinator Kemaritiman, Arif Havas Oegroseno, mengatakan, pemerintah memilih nama Laut Natuna Utara berdasarkan penamaan yang telah digunakan industri migas di perairan tersebut. Sekaligus bentuk satu kejelasan dan kesamaan dengan landas kontinen Indonesia.
Nama itu hasil kesepakatan Tim Nasional yang berasal dari lintas kementerian dan lembaga lainnya, yang telah sesuai standar yang ditetapkan International Hidrographic Organization dan ketentuan Electronic Navigational Chart.

Proses penamaan Laut Natuna Utara dimulai sejak pertengahan tahun 2016 oleh Luhut Pandjaitan, karena vital untuk mengamankan Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil laut.
Pemerintah tidak akan bernegosiasi, termasuk dengan Cina yang berkeras dengan peta sembilan garis putus (nine dashed line) mereka.

Pada Mei 2015, Kementerian Luar Negeri Cina memprotes penangkapan terhadap delapan nelayan mereka yang masuk perairan Natuna dan penembakan terhadap kapal nelayan Cina oleh TNI Angkatan Laut karena melanggar zona ekonomi eksklusif. Kasus pencurian ikan telah kerap terjadi.
Wilayah perairan tersebut dan sekitarnya diklaim Cina  sebagai wilayah tradisional penangkapan ikan mereka berdasarkan peta sembilan garis terputus mereka.

Menurut redaksi sentranews com latihan gabungan (Latgab) yang diadakan di Natuna beberapa waktu lalu adalah sinyal konsentrasi Indonesia menjaga kedaulatan wilayah negara dan indikasi kesiapan bagaimana menghadapi upaya perebutan dari negara lain.
Latgab dan kunjungan Presiden tersebut tidak bisa dipisahkan dari penamaan Laut Natuna Utara. Laut Natuna berada di Laut China Selatan yang belakangan ini diklaim sebagian besarnya oleh China dengan sembilan garis terputus (nine-dash-line).

Berkaca dari wilayah negara Malaysia, Brunei dan Filipina terkena dan menjadi permasalahan diplomasi regional sampai sekarang. Indonesia terimbas pada bagian Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil laut yang terkena klaim China.
(Giro/red, sentranews.com)

Photo, Presiden Joko Widodo (tengah-jaket biru tertutup) di Kapal Tempur RI saat di Natuna

No comments

Powered by Blogger.