Sunday, April 1, 2018

Keprihatinan Investasi & Pengangguran Batam Ala FTZ

Ditulis oleh: Redaksi sentranews.com     Sunday, April 1, 2018    

Batam, sentranews.com-

Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas tidak lagi menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat saat ini karena investasi tidak berbanding lurus dengan pengurangan jumlah pengangguran.Pertumbuhan ekonomi Batam terjun bebas hingga 2 % tahun 2017, sedangkan Kepri dibawah 2 %.


Hal itu terpapar di forum diskusi  ISU COMMUNITY Batam dari berbagai kalangan dari Kepulauan Riau dan Jakarta Bodetabek.

Praktisi hukum, Rahman menyatakan sebagian penyebabnya adalah tidak adanya kepastian hukum dan buruknya kinerja Gubernur Kepri selama 2,5 tahun.

Seturut dengan Rahman, Pengamat Kepri Susanto Siregar, menjelaskan Kota Batam carut marut dikarenakan ketidakselarasan antar pemerintahan. Pemko Batam, Badan Pengusahaan Batam, Pemprov Kepri dan Pemerintah pusat tidak bersinergi dari sisi hukum dan kebijakan.

Lesunya investasi Batam juga dipengaruhi pengupahan dan kebutuhan hidup yang tidak stabil, politik nasional dan politik daerah yang tidak mendukung. "Masalah saat ini sangat tergantung kepada mentalitas Pemerintah dan legislatif. Perbaikan ekonomi  Kepri-Batam demi kesejahteraan rakyat dibutuhkan negarawan yang bisa menjadi king maker," tegas Susanto.

Catatan Isu Community,  kondisi pertumbuhan ekonomi Batam melorot dari 5% tahun 2015 menjadi kurang dari 2% tahun 2017 hampir berbanding lurus dengan tidak beroperasinya 54 perusahaan tutup 2015 ditambah 53 perusahaan tahun 2017. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 62 perusahaan menyatakan tidak beroperasi lagi.

Tidak beroperasinya 157 perusahaan tersebut berakibat jumlah pengangguran terus mengalami peningkatan dari ke tahun. Tahun 2015 sebanyak 14 ribu pengangguran dan meningkat diatas 20 ribu tahun 2017. 

Kondisi itu paradoks dengan data investasi Batam di Badan Pengusahaan Batam, yang menyebutkan  realisasi investasi asing meningkat dari U$ 325,6 juta tahun 2015 menjadi U$ 1,1 miliar tahun 2017, sedangkan 2016 hanya U$ 471,3 juta. Juga paradoks dengan pertumbuhan ekonomi Batam yang terus melorot, dimana tahun 2015 tercatat 5,45%,  2016 sebesar 5,4 %, dan terjun bebas tahun 2017 hingga 2%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Kepri dibawah 2%.

Dari catatan ISU COMMUNITY, permasalahan tersebut  menimbulkan berbagai pertanyaan sebagai daerah kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, sering disebut Batam Free Trade Zone (FTZ), diantaranya:

1. Benarkah realisasi investasi asing itu?

2. Mengapa investasi itu tidak  mengurangi pengangguran?

3. Investasi bidang apa yang dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja, sesuai geografis dan sebagai kawasan FTZ Batam?

4. Apa sebaiknya langkah konkrit yang harus dilakukan oleh Pemerintah (Kepala BP Batam, Walikota Batam, Gubernur Kepri, Menteri Terkait, Presiden) dan legislatif (DPRD Batam, DPRD Kepri, DPD, DPR RI)?

5. Penekanan seperti apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat kepada Pemerintah dan Legislatif, agar langkah konkrit yang disampaikan masyarakat diperhatikan dan dilaksanakan?.

Pembahasan atas permasalahan tersebut akan kami sajikan berikutnya dari hasil diskusi ISU COMMUNITY.

(Red)

Comments
0 Comments

0 comments :