Paradoks, Investasi dan Penggangguran Meningkat di Batam

Batam, SENTRAnews.com-

Konon investasi Batam meningkat tiga tahun belakangan versi Badan Pengusahaan Batam, tetapi ironinya pengangguran bertambah, BP Batam dan Pemko Batam belum mengungkapkan apa yang melatarbelakanginya.

ISU COMMUNITY mencoba menelusuri paradoks tersebut dalam sebuah group diskusi.

Menurut Susanto Siregar, kondisi kekinian dikarenakan pengusaha tidak memerioritaskan tenaga kerja lokal,  gaji tenaga kerja lokal tinggi, adanya penyalur tenaga kerja, dan kwalitas dan kompetensi tenaga kerja tidak sesuai kebutuhan.

Pengusaha cenderung lebih berminat tenaga kerja dari luar disebabkan upah dapat ditekan di bawah upah minimum Kota Batam. Selain itu, pengusaha juga merekrut melalui penyalur untuk meminimalisir masalah tenaga kerja.

Prilaku pengusaha yang menginginkan tenaga kerja non warga Batam akan menambah angka pengangguran, karena sistem kerjanya kebanyakan kontrak. "Setelah habis kontrak pekerja tersebut lebih memilih tinggal di Batam daripada kembali ke daerah asal dengan berbagai alasan," terang Susanto.

Di sisi lain, investor  mempersoalkan kwalitas dan kompetensi tenaga kerja lokal agar bisa menggunakan tenaga ahli  dari negara asal investor, seperti Cina. Bahkan tidak jarang disusupkan non ahli.

Masih Susanto, investor asing dan  nasional kebanyakan konsep ekonominya masih menganut kapitalis. "Itu kita lihat dari prakteknya," tegas Susanto.

Kondisi itu diperparah lagi dengan adanya penyalur tenaga kerja berjiwa kapitalis. Menjual profesi dan tenaga manusia dengan bisnis murni, karena tenaga kerja yang direkrutnya menjadi karyawan penyalur, bukan karyawan pengguna.

Masalah umum peningkatan pengangguran yang tidak dapat dibendung adalah semakin tingginya lulusan pendidikan lanjutan atas dan perguruan tinggi setiap tahun, disumbang lagi dengan kehadiran perantau.


Penekanan yang harus di lakukan, sebut Susanto,  adalah pemerintah mengintervensi pengusaha agar memberdayakan  tenaga lokal, peningkatan kualitas sumberdaya manusia dengan pelatihan dan  sertifikasi, menekan arus exodusnya tenaga kerja dari penyalur tenaga kerja ke Batam.

"DPRD Batam juga perlu memberi dukungan kepada Pemerintah untuk penekanan tersebut bersama solusinya," pinta Susanto bersama Simson Sigiro dan Hotler Nainggolan.

Pantauan SENTRAnews.com-, geliat pembangunan insfrastuktur dan sarana prasarana terlihat di Batam. Ironinya pekerjanya berasal dari luar Kota Batam. Proyek tersebut berasal dari investasi Pemerintah seperti  BP Batam, Pemko Batam, dan  Pemprov Kepri.

Demikian halnya dengan investasi swasta asing dan dalam negeri, pembangunan property dan hotel menggunakan tenaga kerja non lokal.

Pengakuan dari beberapa orang, upah pekerja tersebut di bawah UMK Batam dan hak-hak pekerja lainnya tidak sesuai dengan aturan perundangan perburuhan.

Orang yang berbeda, beberapa  warga Batam, mengakui berkeinginan bekerja di proyek tersebut tetapi tidak diberi kesempatan dengan berbagai alasan.

Selain persoalan upah dan kesempatan, orang yang berbeda pula, mengakui tidak percaya kepada pengusaha pelaksana proyek karena sering kali upah macet dan upah tidak bayar.

(Prist)

Photo, Picbear: Pembangunan lantai 11 salah satu apartemen di Batam

No comments

Powered by Blogger.