Dikala Negara Takluk Di Danau Toba

SENTRAnews.com-,

Negara Indonesia takluk di Danau Toba karena gagal mengevakuasi korban ratusan jiwa meninggal dunia bersama KM Sinar Bangun dari Dasar Danau Toba yang bergeser ke kaldera Haranggaol, atas kemauan dan pertimbangannya sendiri.

"Padahal harapan Presiden RI Joko Widodo 20/6/2018 dalam pidatonya di Istana Negara Jakarta agar semua korban dievakuasi," sebut Simson Sigiro dalam forum diskusi Komunitas Isu dimulai 2/7/2018. Ia berharap Presiden RI memberikan pernyataan resmi terkait penghentian pengangkatan KM Sinar Bangun & korban sebagai jawaban dari pidatonya 20/6/2018.

Uniknya, menurut sumber yang beredar dari pimpinan distrik salah satu gereja di Samosir, bahwa Penghentian dilakukan mulai siang hari 1/7/2018, meski telah dinyatakan diperpanjang mulai 1-3/7/2018 pada 30/6/2017.

"Keputusan rapat Basarnas dan Pemerintah siang ini (Minggu, 1/7/2018), pencarian korban dihentikan hari ini.  Oleh karena keterbatasan tenaga dan kemampuan Basarnas," sebut sumber tersebut dalam bahasa daerah Toba. Alasan keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan itu, diakui Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi  kepada wartawan.

Sejak tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun rute Simanindo Samosir - Tigaras Simalungun 18/6/2018 karena human error itu, menjadi perbincangan nasional di berbagai media sosial, pers, dan masyarakat segala penjuru nusantara dan berbagai negara.

Pro dan Kontra Evakuasi

Ditengah seliwuran informasi dan perbincangan, SENTRAnews.com- mengamati, situasi pro kontra evakuasi semakin memanas setelah publik mengetahui penghentian pencarian dan pengangkatan korban dan kapal. Pro evakuasi juga mendapat dukungan dari DPR RI, ormas/lsm, dan sebagian keluarga korban (sebagian lagi antara pro dan kontra). Kontra evakuasi adalah Pemerintah dan masyarakat pendukungnya.

Diantara pro kontra, Menteri Kordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan, menjelaskan penghentian tersebut berdasarkan sisi phisikologi dan persetujuan keluarga korban, karena  jasad korban dipastikan tidak utuh saat dievakuasi, yang dikhawatirkan akan menambah kesedihan keluarga korban.

Luhut menjelaskan jika pengangkatan itu dipaksakan maka kapal dan korban akan hancur. "Jasad mereka sudah tidak utuh ketika diangkat. Ada badan tanpa kepala, ada sepotong tangan, ada juga potongan-potongan tubuh lainnya berserakan. Jika keluarga harus melihat itu, pasti akan lebih menyakitkan. Saya tahu itu," kata urainya dalam aku fbnya 3/7/2018.

Menilik pro kontra dari sisi hukum dan rencana Ratna Sarumpaet menggugat Pemerintah di PBB, Advokat JS Simatupang dari Jakarta dalam diskusi Komunitas Isu, menyebutkan, masyarakat dapat menggugat Pemerintah atas penghentian tersebut jika tidak sesuai prosedur dan tidak transparan.

Pendapat yang berbeda, Advokat yang juga peneliti Ampuan Situmeang mnyebutkan, sebaiknya penyelesaian persoalan pro kontra penghentian diselesaikan secara musyawarah mufakat, sebagaimana Indonesia berfalsafah Pancasila dan menurut hukum dan mekanisme adat Batak . "Kenapa harus berperkara?. Ini momentum bagi kebijakan adat setempat di kedepankan dalam menyelesaikan masalah melalui musyawarah adat," terangnya.

Anggota DPRD Batam, Udin P Sihaloho dengan arif mendukung, agar tidak dievakuasi dari faktor phisikologi. Udin bersama peserta diskusi Rudi Cool Tampubolon dari Jakarta berharap, dengan kejadian ini pembenahan sektor pelayaran, pariwisata, perekonomian di wilayah sekitar Danau Toba kembali ditingkatkan.

Aktivis Abdullah Yusuf, meminta Pemerintah  harus memberikan alasan yang kuat penghentian pengangkatan bangkai kapal dan korban. Alasan penghentian sebaiknya tidak sama dengan alasan perpanjangan terakhir, karena semua itu sudah di pertimbangkan sebelumnya. "Masa sih!!!  tidak ada cara. Aneh," tukasnya. "Kalau masalah anggaran, terbuka dong!," tambahnya.

Sebagai informasi, dalam forum diskusi, beberapa peserta mendukung langkah aktivis kemanusiaan Ratna Sarumpaet. "Saya setuju pemikiran Bu Ratna, tapi cara dia tidak elegan," terang alumni Universitas Intersional Batam, Vicky sambil berharap jangan diarahkan untuk kepentingan politik.

Belasungkawa Komunitas Isu

Segenap peserta diskusi dan Komunitas Isu turut berbelasungkawa kepada keluarga korban.

Selamat jalan kepada korban yang memasuki dunia baru dan semoga korban selamat dikuatkan Yang Maha Kuasa.

"Kami berharap korban selamat dan keluarga korban meninggal tidak trauma dengan diskusi ini, karena ini adalah dukungan moral dan kepedulian bernegara.

Semoga kejadian ini pelajaran berharga bagi negara dan masyarakat seputaran Danau Toba agar memperbaiki kekurangan dan memelihara kearifan lokal," ungkap Simson Sigiro menutup diskusi tersebut.

(Prist/ Redaksi)

No comments

Powered by Blogger.