Seputar Pelni, Pelabuhan Belawan layak dan Batam Parah

Laporan Icon Perwira, redaksi SENTRAnews.com-

Puncak arus balik mudik liburan dan lebaran 9/6/2019 lalu bersama Pelni Belawan - Batam terpantau tergolong lancar meskipun masih ditemukan kekurangan-kekurangan kecil.

Di sepanjang jalan pintu masuk pelabuhan laut Belawan terpantau macet, berjubel kenderaan dan pejalan kaki. Tetapi para petugas kepolisian dengan setia masih dapat mengendalikan lalulintas dengan baik.

Terpantau, kenderaan pengantar penumpang tidak diperkenankan lagi memasuki area pintu lobi keberangkatan. Di hari biasa, kenderaan pengantar diijinkan menurunkan di area pintu lobi tersebut. Akibatnya google map pun menyalahkan sopir kenderaan. "Anda salah arah," katanya. Seharusnya belok kanan langsung ke pintu lobi, tetapi diarahkan petugas pelabuhan belok kiri ke parkiran pelabuhan.

Tidak biasanya, pemeriksaan tiketpun berlangsung di gerbang masuk area keberangkatan sebelum check in. Sehingga penumpang menumpuk, berdesakan, dan bersesakan di gerbang masuk. Itulah pelayanan di luar gedung keberangkatan.

Di dalam gedung keberangkatan berbeda juga.  Seperti biasa antrian checkin penumpang kelas ekonomi mengular sampai ke luar loby. Pelayanan terlihat rapi dan memerhatikan kenyamanan penumpang. Check in penumpang ekonomi berbeda  dengan kelas satu dan dua, seperti pelayanan jamuan makan di dalam kapal.

Kepadatan penumpang terlihat dari banyaknya penumpang non seat. Tangga-tangga koridor, dan ruang kosong terisi penumpang. Terasa kurang nyaman saat melintasi penumpang non seat yang berjubel. "Mungkin gegara puncak arus balik," mahfum penumpang yang melintas kepada SENTRAnews.com-.

Kebersihan kapal sedikit mengganggu penumpang Belawan-Batam 9/6/2019 lalu. Bangsal-bangsal dan disudut dinding ruangan kapal banyak ditemukan kecoak. Kamar mandi kurang bersih dan peralatannya beberapa tidak berfungsi, bahkan ditemukan istilah "tidak ada rotan akar pun jadi." Gayung air terbuat dari potongan jiregen. Untuk pelayanan yang lain jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.

Setibanya di Batam. Kapal Pelni berlabuh di Batu Ampar, tidak di Sekupang lagi. Terlihat deretan kontainer bertingkat. Sedangkan penumpang masih terbiasa berdesakan untuk turun lebih awal.

Di Pelabuhan Batu Ampar tidak terlihat ada fasilitas apa pun untuk penumpang yang datang. Bahkan tempat berteduh dan istirahat, bahkan sebiji kursi pun tidak terlihat. Menyambut kedatangan penumpanh hanya kontainer, porter, petugas, jalan, dan mobil-mobil petugas pelabuhan.

Penumpang "dihajar" oleh langit dan jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer lebih dengan jalan kali menuju gerbang keluar untuk mendapatkan angkutan umum atau penjemput. Banyak penumpang berjerih payah melalui sambil menjinjing barang bawaannya. Sebagian ada yang menggunakan jasa pikul dan jasa angkut. Ada kardus dan travel besar.

Untuk soal tarif angkutan kenderaan bermotor tidak ditemukan tarif standar, setelah sampai di gerbang keluar pelabuhan bermandikan keringat. Mayoritas suka sama suka dan terpaksa.

Anda mungkin terheran-heran dengan Batam  setelah keluar gerbang pelabuhan, terlihat jalannya berlobang dan berlumpur seperti pemandian kerbau di kampung halaman. Macet, berdebu, dan berlumpur pun menjadi santapan kenderaan yang melewatinya. Kondisi pelabuhan Batu Ampar ini jauh lebih parah dan memprihatinkan daripada pelabuhan Sekupang Batam.  "Tidak layak," celetuk seorang penumpang pria bersama sopirnya.

Kapan Pelabuhan Batu Ampar seperti Pelabuhan Belawan?

Photo, terlihat penumpang di area parkir memasuki area kedatangan pelabuhan Belawan sambil pengecekan tiket di gerbang masuk.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.